Mengenal Konsep e-pembelajaran (Pembelajaran Elektronik)
aribudiyanto.sdmuh.cc – Konsep e-pembelajaran atau pembelajaran elektronik lebih merupakan pemanfaatan jaringan (network) dalam proses pembelajaran. Dalam e-pembelajaran baik pendidik maupun peserta didik terhubung dalam sebuah jaringan, baik dalam bentuk jaringan lokal (intranet) di sekolah, maupun jaringan global (internet). Dalam e-pembelajaran, pendidik dapat menyimpan bahan pembelajaran di sebuah komputer pusat data yang dapat diakses oleh pendidik dan peserta didik kapanpun dan di manapun. Peserta didik juga dapat mengirimkan tugas-tugas sekolah melalui pusat data tersebut. Program e-pembelajaran memang bertujuan untuk menghilangkan batasan ruang dan waktu dalam proses belajar dimana pendidik dan peserta didik dapat setiap saat mengakses informasi pelajaran yang dibutuhkan. Kebutuhan sarana dan prasarana untuk program e-pembelajaran tidak saja terbatas pada peralatan komputer saja, melainkan juga jaringan lokal (LAN) dan jaringan internet di sekolah. Selain itu, e-pembelajaran juga membutuhkan aplikasi program internet yang memudahkan proses belajar dan akses terhadap data-data pelajaran.
Saat ini dunia telah berada dalam era komunikasi instan atau dikenal pula sebagai era informasi. Era informasi ditandai oleh pesatnya perkembangan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi, khususnya komputer dan internet. Internet merupakan jaringan global yang menghubungkan beribu bahkan berjuta jaringan komputer (local/wide areal network) termasuk komputer pribadi (stand alone), yang memungkinkan setiap komputer yang terhubung kepadanya bisa saling melakukan komunikasi satu sama lain. Sebenarnya, internet awalnya lahir untuk suatu keperluan militer di Amerika Serikat. Pada awal tahun 1969 Advanced Research ProjectAgency (ARPA) dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat, membuat suatu eksperimen jaringan yang diberi namaARPAnet untuk mendukung keperluan penelitian (riset) kalangan militer. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya jaringan ini dipergunakan untuk keperluan riset perguruan tinggi, yang dimulai dengan University of California, Stanford Research Institute dan University of Utah (Cronin, 1996). Fasilitas aplikasi Internet cukup banyak sehingga mampu memberikan dukungan bagi keperluan militer, kalangan media massa, kalangan bisnis, maupun kalangan pendidikan.
Dalam kaitan pemanfaatannya untuk E-Pembelajaran, Ashby (1972) seperti dikutip oleh Miarso (2004), menyatakan bahwa dunia pendidikan telah memasuki revolusinya yang kelima. Revolusi pertama terjadi ketika orang menyerahkan pendidikan anaknya kepada seorang guru. Revolusi kedua terjadi ketika digunakannya tulisan untuk keperluan dalam proses belajar mengajar. Revolusi ketiga terjadi seiring dengan ditemukannya mesin cetak sehingga materi pembelajaran dapat disajikan melalui media cetak. Revolusi keempat terjadi ketika digunakannya perangkat elektronik seperti radio dan televisi untuk pemerataan dan perluasan pendidikan. Revolusi kelima, seperti saat ini, dengan dimanfaatkannya teknologi komunikasi dan informasi mutakhir, khususnya komputer dan internet untuk pendidikan. Revolusi ini memberi dampak terhadap beberapa kecenderungan pendidikan masa depan. Beberapa ciri tersebut, menurut Ashby seperti dikutip oleh Miarso (2004) adalah sebagai berikut:
- Berkembangnya pembelajaran di luar sekolah sebagai bentuk pendidikan berkelanjutan.
- Orang memperoleh akses lebih besar dari berbagai sumber belajar.
- Perpustakaan sebagai pusat sumber belajar menjadi ciri dominan dalam sekolah.
- Bangunan sekolah tersebar dari sekolah inti di pusat dengan sekolah-sekolah lain yang ada di tengah masyarakat.
- Tumbuhnya profesi baru dalam dalam bidang media dan teknologi.
- Tuntutan terhadap lebih banyak belajar mandiri.
Kecenderungan lain, seperti diungkapkan oleh Ryan et al (2000) adalah sebagai berikut:
- Teknologi yang ada saat ini dapat mentransformasi cara pengetahuan dikemas, disebarkan, diakses, diperoleh dan diukur. Sehingga merubah cara produksi dan penyampaian materi dari cetak dan analog ke dalam bentuk digital dalam bentuk DVD, CD-ROM, maupun bahan belajar on-line berbasis web lainnya.
- Orang akan lebih memilih metode belajar yang lebih luwes (flexible), mudah, dan sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya masing-masing. Sehingga memicu terjadinya pergeseran pola pendidikan dari tatap muka (konvensional) kearah pendidikan yang lebih terbuka. Dengan adanya teknologi internet ini sistem penyampaian dan komunikasi (delivery system and communication) antara siswa dengan guru, guru dengan guru atau siswa dengan siswa dapat dilakukan dengan berbagai bentuk dan cara, baik secara bersamaan (synchronous) maupun (asynchronous). Beberapa bentuk komunikasi yang dapat dilakukan antara lain adalah sebagai berikut (Purbo, 1997):
- Dialog elektronik (chatting); dialog elektronik adalah percakapan berbasis teks yang dapat dilakukan secara online dalam waktu bersamaan (synchronous) antara dua atau lebih pengguna internet. Contoh aplikasi dalam konteks pendidikan tinggi, dialog elektronik dapat digunakan untuk proses komunikasi antara dosen dengan beberapa orang mahasiswanya dalam mendiskusikan suatu topik perkuliahan tertentu.
- Surat elektronik (e-mail); surat elektronik merupakan suatu bentuk komunikasi tidak bersamaan (asynchronous) yang memungkinkan terjadinya komunikasi antara mahasiswa dengan dosen atau mahasiswa dengan mahasiswa lain melalui surat yang disampaikan secara elektronik melalui internet. Berbeda dengan chatting, dengan cara ini umpan balik yang diperoleh mungkin tertunda.
- Konferensi kelompok melalui surat elektronik (mailing list); Mailing list merupakan perluasan dari e-mail dimana seseorang dapat mengirim pesan kepada sekelompok orang tertentu yang telah terdaftar untuk bergabung dalam kelompok diskusi. Sebagai contoh, seorang dosen memiliki daftar mahasiswa yang tergabung dalam kelompok mata kuliah tertentu. Pemberian tugas dan diskusi dapat dilakukan melalui fasilitas seperti ini.
- Konferensi jarak jauh (teleconference); konferensi jarak jauh dapat berupa konferensi audio maupun konferensi video. Kedua konferensi ini dapat dilakukan dengan cara “point to point” atau “multi point”. Cara pertama dilakukan dalam dua tempat. Sedangkan cara kedua dilakukan dalam lebih dari dua tempat. Sebagai contoh, seorang guru dari sekolah tertentu dapat mendiskusikan suatu topik tertentu kepada siswa di beberapa sekolah lain dalam waktu bersamaan.
E-Pembelajaran hadir sebagai upaya memberdayakan potensi internet untuk kebutuhan pendidikan. Lebih tepatnya, E-Pembelajaran hadir sebagai sebagai salah satu media jaringan sekolah (schoolnet) di Indonesia. Jaringan sekolah adalah suatu kegiatan komunitas sekolah (guru, siswa, atau tenaga pendidik dan kependidikan lain) yang dimediasi oleh internet sebagai sarana komunikasi atau bertukar informasi satu sama lain. Terjadinya pertukaran informasi yang mudah dan cepat tanpa terbatas ruang dan waktu melalui program jaringan sekolah ini memungkinkan terjadinya komunitas yang aktif dan interaktif. Dalam perkembangannya E-Pembelajaran dikembangkan dengan tujuan untuk :
- wahana komunikasi lintas sekolah;
- wadah sumber belajar;
- wahana berbagi informasi antar sekolah di Indonesia.
E-Pembelajaran dalam penerapannya dimaksudkan untuk memfasilitasi pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran agar mencapai hasil yang optimal, terutama untuk materi pelajaran yang bersifat abstrak dan konseptual, kemudian untuk mendapatkan informasi serta pemahaman tentang materi pembelajaran secara efektif dan bermakna, E-Pembelajaran juga memberi peluang bagi pendidik dan peserta didik untuk terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara berkelanjutan sebagai tuntutan global serta terus mengembangkan berbagai model dan metode pembelajaran yang lebih efektif dan efisien dengan hasil optimal. Selain itu bisa meningkatkan motivasi pendidik dan peserta didik untuk mengaktualisasikan kompetensi dan potensi dirinya, sehingga menjadi generasi cerdas, kompetitif dan berkarakter dan pada akhirnya menyelaraskan substansi pembelajaran dengan media pembelajaran kepada peserta didik yang memiliki kemampuan bervariasi. Makin baik keselarasan antarsubstansi pelajaran dan media penyampaian dengan gaya belajar peserta didik, maka kemampuan peserta didik meningkat yang pada gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik pada masing-masing individu.
Oleh sebab itu, pengalaman (best practices), ide, peristiwa/berita atau informasi lain berkaitan dengan pendidikan dan atau pembelajaran yang berasal dari suatu sekolah, guru, ahli dan lain-lain juga memungkinkan didistribusikan dengan cepat melalui internet. Dengan media internet, tidaklah mustahil antara guru dengan guru di sekolah yang berbeda, antara ahli, siswa dengan guru di tempat berbeda dapat saling berkomunikasi baik secara langsung (synchronous) maupun tertunda (asynchronous) untuk mendiskusikan suatu topik/ tema tertentu. Sehingga pertukaran pengetahuan dapat terjadi dan terdistribusi dengan cepat ke banyak sasaran secara efisien.