3D Pocketcopter, “Tongkat Narsis Melayang” untuk Smartphone
aribudiyanto.sdmuh.cc – Pernahkah terlintas dalam pikiran kita untuk menggunakan tongkat narsis smartphone dari sudut pengambilan gambar yang cukup ekstrim yaitu memfoto dari sudut ketinggian tertentu dalam sebuah ruangan? 3D Pocketcopter mungkin merupakan salah satu assesories smartphone yang layak untuk diperhitungkan.
Dalam berbagai momen foto dan dokumentasi menggunakan smartphone, cara favorit seperti apa yang sering Anda gunakan saat mengabadikan momen dengan kamera smartphone? Menambatkan lensa tambahan, menambahkan holder, atau menggunakan ‘tongkat narsis’? Desainer Thomas Pagel memberikan satu lagi alternatif aksesoris kamera untuk smartphone Anda, kali ini dalam rancangan dan kemampuan sangat unik. Pegel memperkenalkan 3D Pocketcopter, sebuah kamera terbang berukuran pulpen dengan mekanisme baling-baling helikopter. Kamera ‘helikopter’ ini dapat melakukan apa yang tidak bisa dilakukan smartphone: mengambil video dan mengabadikan gambar dari udara dalam format HD dan jarak hingga 10 meter.
“Di suatu acara pertemuan, kami ingin mengambil beberapa buah gambar yang tidak biasa, dalam sudut ‘berbeda’. Tapi kami terlalu bodoh untuk menyadarinya. Jadi kami panjat furnitur, tembok dan apapun yang bisa dipanjat. Hal tersebut berbahaya dan dapat merusak barang-barang,” tulis Pegel. Peristiwa itu mendorong sang developer berpikir kreatif, dan setelah menjelajahi internet, ia memutuskan untuk mengadopsi teknologi helikopter.
Namun menentukan jenis rancangan dan motor bukanlah hal mudah. Akhirnya 3D Pocketcopter mengusung desain dua baling-baling dengan bagian tubuh minimalis. Saat tidak digunakan, perangkat ini bisa Anda selipkan di kantong. Jika dibutuhkan, Anda tinggal mengeluarkan dan mengaktifkannya, lalu mengontrol 3D Pocketcopter menggunakan smartphone.
3D Pocketcopter mengambil tenaga dari baterai 12 volt miliknya. Ia tersambung ke handset melalui koneksi Wi-Fi dan Bluetooth seperti kamera remote control GoPro dan Anda mengendalikannya via app di smartphone. Kedua pasang lengan rotor akan berputar ke arah berkebalikan untuk mencapai kestabilan terbang. Thomas Pegel juga telah menemukan solusi bagaimana gerakan rotor tidak menghasilkan suara berlebih, sehingga proses perekaman video lebih hening.
Ketika 3D Pocketcopter mengambil foto atau video, software bisa langsung men-share-nya ke sosial media. Konsep gadget ini memang menjanjikan, tapi sebagai perangkat pintar utama, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada smartphone ketika sedang mengendalikan 3D Pocketcopter – ada telepon masuk, notifikasi, atau mungkin koneksi keduanya terputus. Solusinya, saat terputus, ia akan tetap terbang melayang hingga tersambung kembali.
Tim 3D Pocketcopter mengakui bahwa mereka belum memiliki model prototype yang bekerja, dan apa yang mereka presentasikan di sini masih berupa konsep. Hebatnya, target stretch penggalangan dana sebesar € 15.040 (sekitar US$ 19.460) sudah terlampaui, bahkan model Early Bird Special seharga € 60 (US$ 78) telah terjual habis. 3D Pocketcopter memiliki ukuran tinggi 19 sentimeter berdiamteter 4,5 sentimeter dan bilah baling-baling bisa dilepas. Ia mampu terbang selama 25 menit sebelum Anda harus mengisi ulang kembali baterainya selama enam jam. Selain menyalurkan hasil foto dan video melalui kamera HD langsung ke Twitter, Facebook, Instagram dan sejenisnya, 3D Pocketcopter dilengkapi slot Micro SD.
Jika semua berjalan lancar, tim 3D Pocketcopter memperkirakan dapat mulai memasuki proses uji coba awal tahun depan dan rampung pada bulan Mei 2015. Untuk sekarang, Pagel dan kawan-kawan masih fokus pada platform Android, tapi selanjutnya mereka akan memperluas dukungan ke perangkat Apple dan Windows Phone. Pertanyaan kita: apakah tulisan ’3D’ pada namanya berarti ia juga memiliki fitur kamera 3D? Anda bisa memesan 3D Pocketcopter seharga mulai dari € 70 (US$ 90) di situs crowdfunding Indie Gogo. Rencananya, versi retail perangkat ini akan dibanderol € 99 (US$ 128).